Buku Karya Wahyu Gumelar, SH Bagian 2 : Masjid Besar al-Atiiq Kauman Salatiga (Sejarah, Arsitektur, dan Pengelolaannya)
Pendahuluan
Masjid merupakan pusat ibadah, masjid juga sekaligus tempat pengembangan budaya dan tempat berkumpulnya umat Islam. Disinilah arti pentingnya keberadaan masjid bagi kemajuan umat Islam. Masjid juga mempunyai makna penting bagi umat Islam khusunya, dan perkembangan agama Islam pada umumnya.
Sejarah masjid pertama kali dibangun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yakni ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan perjalanan hijrah dari Mekah ke Madinah. Beliau mempir atau singgah terlebih dahulu ke suatu daerah yang bernama Quba, beberapa kilometer sebelum Yatsrib (Madinah). Ternyata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam singgah di Quba itu bukan sekedar untuk istirahat dalam perjalanan yang mencekam dan melelahkan itu, tapi beliau bersama sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu singgah di sana juga dengan maksud mendirikan masjid yang kemudian dikenal dengan nama Masjid Quba’.
Kota Salatiga merupakan kota kecil di Jawa Tengah yang dikelilingi oleh Kabupaten Semarang. Kondisi alam yang sejuk, indah, dan bersahabat membuat Salatiga menjadi kota pilihan bagi orang kulit putih pada jazan Hindia Belanda untuk beristirahat dan sebagai tempat tinggalnya. Karena banyak orang kulit putih yang tinggal disana, maka Salatiga mendapat perhatian banyak dari Pemerintaha Hindia Belanda. Puncaknya terjadi pada tanggal 25 Juni tahun 1917 Gubernur Jenderal Hindia Belanda mengeluarkan Staatblad Nomor 266 Tahun 1917 yang menjadikan Salatiga sebagai daerah otonom dengan sebutan “de gemeente Salatiga” (Kotapraja Salatiga) dengan dipimpin oleh seorang Burgemesster (Walikota). Dengan status gemeente ini membuat Salatiga kemudian berkembang menjadi de Schoonste Stad van Midden-Jawa yang berarti kota terindah di Jawa Tengah. Bahkan Salatiga sekarang terkenal dengan sebutan Indonesia Mini. Karena, banyak penduduknya yang tinggal di Salatiga berasal dari Sabang sampai Merauke. Selain itu, Salatiga terkenal dengan Kota Tertoleran, karena keharmonisan antar umat beragama etnis dan ras saling hidup ber-dampingan.
Kota Salatiga dahunya merupakan daerah pusat Militer Pemerintah Hindia Belanda. Hal ini, terbukti dengan banyaknya peninggalan berupa bangunan-bangunan tua dengan arsitektur Eropa di Salatiga. Selain itu, benda-benda peninggalan sejarah berupa artefak-artefak yang dijumpai di dalam rumah ibadah seperti masjid kuno merupakan saksi sejarah berdirinya masjid tersebut, sekaligus saksi sejarah masuknya Agama Islam ke wilayah di mana masjid itu berdiri. Oleh karena itu, situs-situs yang memiliki nilai sejarah dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 11 tahun 2010 tentang Benda Cagar Budaya. Benda-benda bersejarah yang bernilai religi merupakan salah satu instrumen untuk menelusuri sejarah masuknya agama-agama di Salatiga.
Dalam sejarah pergerakan dan perjuangan rakyat di Kota Salatiga, Masjid Besar Kauman Kodya Salatiga atau yang sekarang dikenal dengan Masjid Besar al-Atiiq Kauman Salatiga terletak di Jalan K.H.A. Wahid Hasyim Nomor 2 Kauman Salatiga, yang didirikan pada tahun 1832 M/ 1247 H (terbukti dengan tulisan arab di bagian atas Mihrab yang tertulis Tarikh 1247 H) oleh Laskar Pangeran Diponegoro yang bernama Kyai Rono Sentiko ini menyimpan cerita yang menarik. Masjid ini merupakan masjid tertua kedua di Kota Salatiga.
Kyai Rono Sentiko adalah Abdi Dalem Pangeran Pakubuwana VI dan sekaligus sebagai Senopati Nyai Ageng Serang pada mas perang Jawa (1825-1830). Kiprahnya pada Perang Jawa dalam melawan Pemerintahan Hindia Belanda, Kyai Rono Sentiko mendirikan sebuah masjid yang digunakan sebagai tempat pusat ibadah, dan juga dipergunakan sebagai pusat dalam menyusun stategi perang gerilya melawan Pasukan Milier Pemerintah Kolonial Belanda pada saat itu. Di Salatiga, Kyai Rono Sentiko bertemu dengan para laskar Prajurit Perjuangan Pangeran Diponegoro, yakni Kyai Sirojudin yang akhir-akhir ini dikenal dengan sebutan Kyai Damarjati dan Kyai Condro yang berasal dari Magelang.
Masjid Besar Al-Atiiq Kauman Salatiga seharusnya masuk dalam Benda Cagar Budaya karena merupakan bangunan tua yang menjadi saksi perjuangan dalam penyebaran agama Islam dan tentunya dalam melawan penjajahan. Berdasarkan Informasi bahwa pada awalnya sekitar tahun 2000-an Masjid Besar Al-Atiiq Kauman Salatiga sudah akan di jadikan sebagai Benda Cagar Budaya (BCB). Namun, karena proses yang begitu lama, isamping itu, bangunan masjid yang sudah lapuk dimakan usia, atas keprihatinan itu pengelola masjid segera mengadakan pembangunan. Namun, sebelum pembangunan dilakukan, sangat disayangkan dari pembangunan tersebut terdapat nilai-nilai sejarahnya sebagian ada yang hilang. Maka dari itu sudah tidak bisa di jadikan sebagai situs Benda Cagar Budaya.
Selain itu, Dusun Kauman dahulu merupakan gudangnya atau pusatnya para Ulama dan Santri. Hal itu terbukti, banyak Kyai dan Ulama berada di sana seperti K.H. Abdul Mukti (Mbah Ajung) beliau merupakan penghulu pertama dan terakhir dengan SK Belanda. Kemudian sosok Ulama ahli Falak yang berasal dari Bojonegoro Jawa Timur yang menetap di Kauman yakni K.H. Zubair Umar al-Jailani, K.H Achmad Ma’muri yang berjasa menamai jala-jalan yang ada di Salatiga dan seorang Hakim, Kyai Muh Muhson Zakariya yang mengasuh Pondok Pelajar Arribarun Najah, K.H. Ishom, K.H. Dimyati dan para Ulama lainnya yang akan di muat dalam penelitian ini.
Berdasarkan latar belakang di atas dan atas keprihatinan dari pribadi penulis akan Masjid Besar Al-Atiiq Kauman Salatiga yang merupakan salah satu masjid tertua kedua di Kota Salatiga dan merupakan saksi perjuangan para leluhur dalam penyebaran agama Islam sekaligus sebagai tempat berjuang melawan penjajahan. Penulis berusaha menguak secara singkat dan mencari sisa-sisa buki-bukti sejarah yang hilang. Dengan mengharap ridha Allah SWT semoga selalu di berikan kemudahan dan kelancaran dalam penelitian ini.
Kota Salatiga, Perang Jawa (1825 - 1830), dan Laskar Diponegoro
Kota Salatiga
Kota Salatiga, adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Tengah. Kota ini berbatasan sepenuhnya dengan Kabupaten Semarang. Salatiga terletak 49 km sebelah selatan Kota Semarang atau 52 km sebelah utara Kota Surakarta, dan berada di jalan negara yang menghubungan Semarang-Surakarta. Salatiga terdiri atas 4 kecamatan, yakni Argomulyo, Tingkir, Sidomukti, dan Sidorejo. Kota ini berada di lereng timur Gunung Merbabu, sehingga membuat kota ini berudara cukup sejuk.
Salatiga sebagai salah satu kota yang ada di Provinsi Jawa Tengah, letaknya dikelilingi wilayah Kabupaten Semarang. Letak Astronomisnya antara 007.170 dan 007.17’.230 Lintang Selatan dan antara 110.27’.56,810 dan 110.32’.4,640 Bujur Timur. Luas Wilayah Kota Salatiga hanya sebesar 0,17 % dari total luas daratan di Jawa Tengah. Salatiga, kota yang terletak persis di sebelah selatan Semarang, bukan hanya menjadi kota yang menghubungkan pelabuhan Semarang dan Kasunanan Surakarta. Sejak dulu, kawasan ini memang punya pengalaman historis yang panjang dan menarik.
Kota Salatiga adalah sebuah kota kecil di Jawa Tengah dan tidak banyak yang mengetahui keunikan, kekayaan kebuadayaan dan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh Kota Salatiga, Kota Salatiga lebih dikenal sebagai kota yang adem ayem dan kota pensiunan. Kota Salatiga dalam perkembangan sejarahnya memiliki 5 (lima) zaman berbeda yang berpengaruh dalam perkembangan kebudayaan dan pola hidup masyarakat Kota Salatiga.
Kelima zaman Tersebut adalah zaman Hindu, Zaman Islam, Zaman Kolonial, kemerdekaan, dan Pemerintahan Orde Lama yang Dipimpin Oleh Soekarno. Kelima Zaman yang pernah ada di salatiga ini mewarnai Perkembangan kota dari berbagai macam aspek, dari ekologi, tata kota, masyarakat, Kebudayaan, dan masih banyak yang lainnya. Bukti dari kelima Zaman di Salatiga ini masih dapat dilihat dan dikenang hingga saat ini, mulai dari bukti Bangunan, Pustaka, potret. Namun tidak banyak yang mengetahui hal ini, bahkan penduduk Salatiga Sendiri tidak banyak yang menyadari kekayaan Salatiga Seperti ini. Dari Bukti-bukti yang masih dapat kita temukan, kita dapat mengetahui keadaan suatu zaman.
Zaman Hindu
Kelima Zaman dalam Sejarah yang dimiliki Kota Salatiga diawali dengan zaman Hindu yang di buktikan dengan ditemukannya berbagai macam Peninggalan peradaban Hindu yang tersebar di beberapa wilayah di Salatiga seperti ditemukannya antevik Candi bercorak Hindu (Hiasan Candi), Lingga (perlambang alat Kelamin Siwa), Yoni (Perlambang alat Kelamin Durga, istri Siwa), atap Candi, lapik Candi yang ditemukan di daerah Turusan, Kemudian Prasasti Plumpunngan yang berangka tahun 750M yang pada akhirnya dijadikan Sebagai acuan Hari jadi Kota Salatiga, Antevik Candi yang ditemukan di daerah Pancuran Salatiga, patung Nandi (lembu) yang ditemukan di Universitas Kristen Satya Wacana, dan masih banyak penemuan lainnya.
Bukti-bukti ini menunjukkan bahwa pernah ada peradaban Hindu di Salatiga yang dahulu pada abad ke VII-XV dikenal sebagai periode Hinduisasi di Nusantara yang berakhir dengan runtuhnya Kerajaan Majapahit, dan ternyata Salatiga juga termasuk dalam Bagian Proses Hinduisasi tersebut.
Zaman Islam
Walisongo atau Walisanga dikenal sebagai penyebar agama Islam di tanah Jawa pada abad ke 14. Mereka tinggal di tiga wilayah penting pantai utara Pulau Jawa, yaitu Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, dan Cirebon di Jawa Barat. Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia, khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat para Walisongo ini lebih banyak disebut dibanding yang lain.
Penamaan Salatiga tidak lepas dari peran KI Ageng Pandanaran II (Bupati Semarang) pada masa pemerintahan Pandan Arang II menunjuk-kan kemakmuran dan kesejahteraan yang dapat dinikmati penduduknya. Namun sesuai dengan nasihat Sunan Kalijaga, Bupati Pandan Arang II mengundurkan diri dari hidup keduniawian yang melimpah ruah. la meninggalkan jabatannya, meniggalkan Kota Semarang bersama keluarga menuju arah Selatan, pada saat Ki Pandan Arang II tiba disuatu daerah perdikan ditengah perjalanan dihadang oleh rampok/begal yang berjumlah tiga orang untuk merampok bawaan istri Ki Pandanaran, atas kuasa Allah SWT ketiga perampok tersebut dapat dikalahkan. Setelah kejadian tersebut Ki Pandan Arang II menamai daerah tersebut Salatiga (dari kata salah dan tiga) yang kelak dikemudian hari dikenal menjadi Salatiga, adapun perampok yang dikalahkan tersebut masuk Islam dan menjadi murid Ki Pandan Arang kemudian mengikuti perjalanan melewati Boyolali akhirnya sampai ke sebuah bukit bernama jabalkat di daerah Klaten.
Zaman Islam yang dibuktikan dengan adanya peninggalan-peninggalan masa Islam Seperti makam Islam dan masjid, juga beberapa topologi daerah di Salatiga, dan Pola Kota tradisional yang mendapat pengaruh Islam masih dapat dilihat di Bundaran Pancasila, Dimana Dahulu adalah pusat pemerintahan Tradisional yang disebut kepatihan dengan alun-alun sebagai pusat kota yang disekitarnya terdapat Rumah Tinggal Patih yang lebih dikenal dengan kepatihan, Masjid, dan Fasilitas Kota Lainnya yang dipengaruhi oleh ajaran Islam.
Tipologi sebuah daerah yang ada di Salatiga yang mendapat pengaruh Islam salah satunya adalah daerah Kauman, daerah Kauman ini pada masa itu dikenal sebagai daerahnya para Ulama, Kyai dan Santri terbukti terdapat sebuah Masjid Besar dan Pondok Pesantren. Pada saat ini, di kauman masih terdapat Masjid yang megah dan dipercaya sebagai Masjid tertua kedua di Salatiga, yang juga masih dikenal sebagai Masjid Besar Kauman Kodya Salatiga.
Zaman Kolonial
Zaman Kolonial yang dapat dilihat dari wajah Kota Salatiga yang lebih modern, tata Kota Salatiga yang mengikuti tata Kota di Eropa, dengan Pusat Kota yang saat ini dapat dilihat di Bundaran depan Ramayana sebagai Pusat Kota yang menghubung-kan 4 ruas Jalan.
Di Sekitar Pusat kota Kolonial itu dahulu terdapat kantor Pemerintahan, Rumah Dinas Assistant Resident (Setingkat Walikota), dan Taman Kota, kemudian yang sampai saat ini masih bisa dilihat adalah tata Kota yang membedakan Pemukiman antara Warga Eropa dengan Etnis Tionghoa sebagai penggerak ekonomi, Kawasan Tionghoa sebagai pusat perdagangan terdapat di ruas jalan Jendral Sudirman yang dahulu dikenal sebagai Solowech. Sedangkan, pemukiman untuk Bangsa Eropa dikususkan ruas jalan Diponegoro yang dahulu dikenal dengan jalan Toentang Wech.
Pasca Kemerdekaan Indonesia
Pasca Kemerdekaan Indonesia, Salatiga juga turut andil dalam masa Pasca kemerdekaan bangsa Indonesia. Salah satunya ketika peristiwa Bumi Hangus yang dilakukan pada saat agresi militer Belanda ke 2 di Salatiga pada tahun 1948. Upaya Bumi Hangus ini dilakukan oleh masyarakat Salatiga agar Bangsa Kolonial tidak dapat mempergunakan fasilitas kota sebagai upaya untuk mempertahankan kekuasaan bangsa kolonial di Salatiga. Beberapa bangunan yang dibumihanguskan adalah Hotel Bergen dulu yang pada masa kolonial digunakan sebagai penginapan khusus masyarakat pribumi.
Pasca Pemerintahan Orde Lama
Pasca Pemerintahan Orde Lama yang dipimpin oleh Ir Soekarno, Salatiga juga menjadi bagian dalam sejarah kehidupan Presiden Soekarno dibuktikan dengan pertemuan atau kisah Cinta Ir Soekarno dengan istri ke-4nya bernama Hartini di Salatiga saat dirinya melakukan kunjungan ke daerah-daerah di Jawa Tengah, dengan bangunan rumah dinas Walikota saat ini yang menjadi saksi bisu pertemuan keduanya. Hal ini dikatakan dalam sebuah buku karangan Arif Budiman yang berjudul “Kebebasan, Negara, Pembangunan”.
Dalam masa pemerintahan Orde Lama ini jiwa zaman kala itu masih menunjukkan Semangat Nasionalisme yang tinggi, apalagi masyarakat Salatiga dapat mendengar dan merasakan langsung ketika salah satu founding father bangsa ini yaitu Ir Soekarno berbicara langsung di depan masyarakat Salatiga pada tahun 1952 di depan Ramayana saat ini.
Perang Jawa (1825-1830)
Pangeran Diponegoro
Pangeran Diponegoro (Bendara Pangeran Harya Dipanegara/Bendara Raden Mas Antawirya/ sebutan dari kalangan santri adalah Syekh Abdurrokhim /dalam sebutan aliran Tarikat adalah Abdul Hamid), lahir di Ngayogyokarta Hadiningrat pada 11 November 1785 dan meninggal di Makasar pada 8 Januari 1855. Beliau adalah putra sulung dari Sultan Hamengku-buwana III, raja ketiga di Kesultanan Yogyakarta dan ibunya merupakan selir bernama R.A. Mangkarawati yang berasal dari Pacitan. Pernah di tawari oleh ayahnya untuk menjadi raja, namun di tolak oleh beliau. Beliau lebih memilih tinggal di daerah Tegalrejo tempat tinggal eyang buyut putrinya, permaisuri dari Sultan Hamengku-buwana I, Gusti Kangjeng Ratu Ageng.
Sisi Religius Pangeran Diponegoro
Kehidupan Pangeran Diponegoro yang sangat agamis, ternyata tidak lepas dari peran Eyang Buyutnya, Ratu Ageng. Ihwal demikian, menurut Peter Brian Ramsay Carey, yang membawa Pangeran Diponegoro menjadi penganut Islam Sufi, Tarekat Shattariah. Penganut utama di Kraton Yogyakarta zaman Hamengku-buwana I adalah Tarekat Shattariyah dengan rujukan langsung pendirinya Syekh Abdul Muhyi di Pulau Jawa pada Abad XVII, (ada pendapat lain yang mengatakan penganut Tarekat Naqsa-bandiyah).
Pangeran Diponegoro mendapatkan silsilah tarekat ini melalui jalur Kiai Taptojani, deklarator Perang Jawa yang juga berlatarbelakang Tarekat Syattariyah. Peter Carey menyebutnya berasal dari Sumatera. Jika benar demikian, ada kemungkinan Kiai Taptojani mewarisi matarantai Syattariyah melalui jalur Syekh Burhanuddin Ulakan, Sumatera Barat. Baik Syekh Burhanuddin Ulakan maupun Syekh Abdul Muhyi Pamijahan keduanya adalah murid mufassir Syaikh Abdurrauf Assinkili, Aceh. Nama terakhir ini yang menyebarkan ajaran Syattariyah di Nusantara setelah berguru kepada Imam Al-Qusyasyi dan al-Kurani, dua tokoh kunci Syattariyah di Haramain.
Pangeran Diponegoro merupakan seorang santri yang pernah mondok di Pondok Pesantren Tegalsari Jetis Ponorogo kepada K.H. Hasan Basari. Belajar Kitab Kuning kepada Kyai Taftazani Kartasura, belajar Tafsir Jalalain kepada K.H. Baidlowi Bagelen dan Belajar Ilmu Hikmah kepada K.H. Nur Muhammad Ngadiwongso, Salaman Magelang.
Semenjak remaja Pangeran Diponegoro sudah akrab dengan kitab kuning yang kini lazim diajarkan di pesantren. Kitab Tuhfah yang berisi ajaran sufisme tentang tujuh tahap “eksistensi” menjadi faforitnya. Kitab ini dijadikan perenungan tentang Tuhan dan posisi manusia. Beliau juga akrab dengan kitab ushul dan tasawuf serta juga syair-syair mistis Jawa, seperti “suluk”, sejarah para Nabi (Serat Annabiyya) dan Tafsir al-Qur’an. Bidang lain yang juga mendapat perhatian khusus Pangeran Diponegoro adalah Kitab Taqrib, Lubabal-fiqh, Muharrar dan Taqarrub. Selain itu beliau juga banyak berbicara kaitannya dengan persoalah tarekat seperti membahas soal syariat, hakikat dan ma’rifat.
Perlawanan pengeran Diponegoro merupa-kan awal kebangkitan Nusantara yang bermula dari seorang Ulama. Dalam dunia pesantren Pangeran Diponegoro diberi nama oleh sang guru “Seh Ngabdurrokhim” (Syekh Abdurrohim). Dalam perjalanan menyepi sang Syekh, datanglah Sunan Kali yakni Sunan Kalijaga yang memberi kabar bahwa Seh Ngabdurrakhim akan menjadi wasilah terusirnya Belanda dari Negeri Nusantara, meskipun jabatan sebagai Ratu Jawa hanya ngerang-erang nuli musno (sebentar dan kemudian sirna).
Bagi Diponegoro dan para pengikutinya, perang ini merupakan perang jihad melawan Belanda dan orang Jawa murtad. Sebagai seorang muslim yang saleh, Diponegoro merasa tidak senang terhadap religiusitas yang kendur di istana Yogyakarta akibat pengaruh masuknya Belanda, disamping kebijakan-kebijakan pro-Belanda yang dikeluarkan istana. Infiltrasi pihak Belanda di istana telah membuat Keraton Yogyakarta seperti rumah bordil. Di lain pihak, Smissaert menulis bahwa Pangeran Diponegoro semakin lama semakin hanyut dalam fanatisme dan banyak anggota kerajaan yang menganggapnya kolot dalam beragama.
Dalam laporannya, Letnan Jean Nicolaas de Thierry menggambarkan Pangeran Diponegoro mengenakan busana bergaya Arab dan serban yang seluruhnya berwarna putih. Busana tersebut juga dikenakan oleh pasukan Diponegoro dan dianggap lebih penting dibandingkan busana adat Jawa meskipun perang telah berakhir. Laporan Paulus Daniel Portier, seorang indo, menyebutkan bahwa para tawanan perang Belanda memperoleh ancaman nyawa jika tidak bersedia masuk Islam.
Perang Diponegoro/ Perang Jawa
Latar Belakang
Dalam Babad Diponegoro yang disusun oleh Pangeran Haryo Suryonegoro dan Patih Danurejo V, disebutkan bahwa salah satu hal yang menyebabkan pecahnya Perang Jawa antara lain adalah pengangkatan Dewan Perwalian bagi Sultan Hamengkubuwono V yang masih belia. Konon terdapat sementara kalangan Keraton yang tidak menyetujui pengangkatan Pangeran Diponegoro sebagai Dewan Perwalian tersebut. Diantara para bangsawan keraton yang tidak setuju antara lain adalah Patih Danurejo IV dan Mayor Wironegoro (Komandan Pasukan Kraton). Mereka berdua adalah pejabat tunjukan Pemerintahan Kolonial Belanda sehingga dalam menjalankan tugas dan kewenangan-nya selalu tunduk pada kepentingan Belanda.
Karena mengetahui Pangeran Diponegoro membenci para pegawai pribumi yang membela kepentingan Pemerintahan Kolonial Belanda, mereka berdua merasa khawatir tugas dan jabatan mereka akan terhalang oleh masuknya Pangeran Diponegoro dalam keanggotaan Dewan Perwalian. Oleh karena itu, Pemerintah Kolonial Belanda dan para pendukungnya di kalangan kraton terus berusaha mencari cara agar Pangeran Diponegoro mengundurkan diri dari keanggotaan Dewan Perwalian tersebut.
Puncaknya Perang Diponegoro berawal ketika pihak Belanda memasang patok di tanah milik Diponegoro di desa Tegalrejo. Saat itu, ia memang sudah muak dengan kelakuan Belanda yang tidak menghargai adat istiadat setempat dan sangat mengeksploitasi rakyat dengan pembebanan pajak. Sikap Diponegoro yang menentang Belanda secara terbuka, mendapat simpati dan dukungan rakyat. Atas saran GPH Mangkubumi, pamannya, Pangeran Diponegoro menyingkir dari Tegalrejo, dan membuat markas di sebuah gua yang bernama Gua Selarong. Saat itu, Diponegoro menyata-kan bahwa perlawanannya adalah perang sabil, perlawanan menghadapi kaum kafir.
Semangat "perang sabil" yang dikobark-an Diponegoro membawa pengaruh luas hingga ke wilayah Pacitan dan Kedu. Salah seorang tokoh agama di Surakarta, Kyai Maja, ikut bergabung dengan pasukan Diponegoro di Gua Selarong. Kyai Mojo yang lahir di Desa Mojo di wilayah Pajang, dekat Kota Surakarta tertarik berjuang bersama Pangeran Diponegoro karena Pangeran Diponegoro ingin mendirikan kerajaan yang berlandaskan Islam. Kyai Mojo dikenal sebagai ulama besar yang sebenarnya masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Diponegoro. Ibu Kyai Mojo, R.A. Mursilah, adalah saudara perem-puan dari Sultan Hamengkubuwana III.
Akan tetapi, Kyai Mojo yang aslinya bernama Muslim Mochamad Khalifah semenjak lahir tidak mencicipi kemewahan gaya hidup keluarga istana. Jalinan persaudaraan Pangeran Diponegoro dan Kyai Mojo kian erat setelah Kyai Mojo menikah dengan janda Pangeran Mangkubumi yang merupakan paman dari Pangeran Diponegoro. Tak heran, Diponegoro memanggil Kyai Mojo dengan sebutan "paman" meski relasi keduanya adalah saudara sepupu.
Selain Kyai Mojo, perjuangan Pangeran Diponegoro juga didukung oleh Sunan Pakubuwono VI dan Raden Tumenggung Prawiradigdaya Bupati Gagatan. Meski demikian, pengaruh dukungan Kyai Mojo terhadap perjuangan Pangeran Diponegoro begitu kuat karena ia memiliki banyak pengikut dari berbagai lapisan masyarakat. Kyai Mojo yang dikenal sebagai ulama penegak ajaran Islam ini bercita-cita, tanah Jawa dipimpin oleh pemimpin yang mendasarkan hukumnya pada syariat Islam. Semangat memerangi Belanda yang merupakan musuh Islam dijadikan taktik Perang Suci. Oleh sebab itu, kekuatan Dipenogoro kian mendapat dukungan terutama dari tokoh-tokoh agama yang berafiliasi dengan Kyai Mojo. Menurut Peter Carey (2016) dalam Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro 1785-1855 disebutkan bahwa sebanyak 112 kyai, 31 haji, serta 15 syekh dan puluhan penghulu berhasil diajak bergabung.
Selama perang ini kerugian pihak Belanda tidak kurang dari 15.000 tentara dan 20 juta gulden. Berbagai cara terus diupayakan Belanda untuk menangkap Pangeran Diponegoro. Bahkan sayembara pun dipergunakan. Hadiah 50.000 Gulden diberikan kepada siapa saja yang bisa menangkap Diponegoro, hingga akhirnya ditangkap pada 1830.
Perang Diponegoro merupakan perang terbuka dengan pengerahan pasukan-pasukan infanteri, kavaleri, dan artileri—yang sejak perang Napoleon menjadi senjata andalan dalam pertempuran frontal—di kedua belah pihak berlangsung dengan sengit. Front pertempuran terjadi di puluhan kota dan desa di seluruh Jawa. Pertempuran berlangsung sedemikian sengitnya sehingga bila suatu wilayah dapat dikuasai pasukan Belanda pada siang hari, maka malam harinya wilayah itu sudah direbut kembali oleh pasukan pribumi; begitu pula sebaliknya. Jalur-jalur logistik dibangun dari satu wilayah ke wilayah lain untuk menyokong keperluan perang. Berpuluh kilang mesiu dibangun di hutan-hutan dan dasar jurang. Produksi mesiu dan peluru berlangsung terus sementara peperangan berkencamuk. Para telik sandi dan kurir bekerja keras mencari dan menyampaikan informasi yang diperlukan untuk menyusun stategi perang. Informasi mengenai kekuatan musuh, jarak tempuh dan waktu, kondisi medan, curah hujan menjadi berita utama; karena taktik dan strategi yang jitu hanya dapat dibangun melalui penguasaan informasi.
Jalan Peperangan
Pertempuran yang dilakukan secara gerilya dengan medan pertempuran yang sempit tersebut menyulitkan ruang gerak pasukan Belanda. Pertempuran yang kemudian terjadi memakan waktu cukup lama dan membuat pihak Pemerintah Kolonial Belanda kalang kabut karena besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk menghadapi pemberontakan itu, serta banyaknya prajurit yang tewas di medan pertempuran adalah bukti sedemikian tangguh dan gigihnya para prajurit pedukung dan pelindung Pangeran Diponegoro.
Pertempuran terbuka dengan pengera-han pasukan-pasukan infantri, kavaleri dan artileri (yang sejak perang Napoleon menjadi senjata andalan dalam pertempuran frontal) di kedua belah pihak berlangsung dengan sengit. Front pertempuran terjadi di puluhan kota dan desa di seluruh Jawa. Pertempuran berlangsung sedemikian sengitnya sehingga bila suatu wilayah dapat dikuasai pasukan Belanda pada siang hari, maka malam harinya wilayah itu sudah direbut kembali oleh pasukan pribumi; begitu pula sebaliknya. Jalur-jalur logistik dibangun dari satu wilayah ke wilayah lain untuk menyokong keperluan perang.
Berpuluh-puluh kilang mesiu dibangun di hutan-hutan dan di dasar jurang. Produksi mesiu dan peluru berlangsung terus sementara peperangan sedang berkecamuk. Para telik sandi dan kurir bekerja keras mencari dan menyampaikan informasi yang diperlukan untuk menyusun strategi perang. Informasi mengenai kekuatan musuh, jarak tempuh dan waktu, kondisi medan, curah hujan menjadi berita utama; karena taktik dan strategi yang jitu hanya dapat dibangun melalui penguasaan informasi.
Serangan-serangan besar rakyat pribumi selalu dilaksanakan pada bulan-bulan peng-hujan; para senopati menyadari sekali untuk bekerja sama dengan alam sebagai "senjata" tak terkalahkan. Bila musim penghujan tiba, gubernur Belanda akan melakukan usaha-usaha untuk gencatan senjata dan berunding, karena hujan tropis yang deras membuat gerakan pasukan mereka terhambat. Penyakit malaria, disentri, dan sebagainya merupakan "musuh yang tak tampak", melemahkan moral dan kondisi fisik bahkan merenggut nyawa pasukan mereka. Ketika gencatan senjata terjadi, Belanda akan mengonsolidasikan pasukan dan menyebar-kan mata-mata dan provokator mereka bergerak di desa dan kota; menghasut, memecah belah dan bahkan menekan anggota keluarga para pengeran dan pemimpin perjuangan rakyat yang berjuang di bawah komando Pangeran Diponegoro. Namun pejuang pribumi tersebut tidak gentar dan tetap berjuang melawan Belanda.
Pada tahun 1827, Belanda melakukan penyerangan terhadap Diponegoro dengan menggunakan sistem benteng sehingga Pasukan Diponegoro terjepit. Pada tahun 1829, Kyai Mojo, pemimpin spiritual pemberon-takan, ditangkap. Menyusul kemudian Pangeran Mangkubumi dan panglima utama-nya Alibasah Sentot Prawirodirjo menyerah kepada Belanda. Akhirnya pada tanggal 28 Maret 1830, Jenderal De Kock berhasil menjepit pasukan Diponegoro di Magelang. Di sana, Pangeran Diponegoro menyatakan bersedia menyerahkan diri dengan syarat sisa anggota laskarnya dilepaskan. Maka, Pangeran Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Manado, kemudian dipindahkan ke Makassar hingga wafatnya di Benteng Rotterdam tanggal 8 Januari 1855.
Berakhirnya Perang Jawa merupakan akhir perlawanan bangsawan Jawa. Perang Jawa ini banyak memakan korban dipihak pemerintah Hindia sebanyak 8.000 serdadu berkebangsaan Eropa, 7.000 pribumi, dan 200.000 orang Jawa. Setelah perang berakhir, jumlah penduduk Yogyakarta menyusut separuhnya.
Karena bagi sebagian orang Kraton Yogyakarta Pangeran Diponegoro dianggap pemberontak, konon keturunan Diponegoro tidak diperbolehkan lagi masuk ke Kraton hingga Sri Sultan Hamengkubuwono IX memberi amnesti bagi keturunan Pangeran Diponegoro dengan mempertimbangkan semangat kebangsaan yang dipunyai Diponegoro kala itu. Kini anak cucu Diponegoro dapat bebas masuk Kraton, terutama untuk mengurus silsilah bagi mereka, tanpa rasa takut akan diusir.
Akhir Perang
Di sisi lain, sebenarnya Belanda sedang menghadapi Perang Padri di Sumatera Barat. Penyebab Perang Paderi adalah perselisihan antara Kaum Padri (alim ulama) dengan Kaum Adat (orang adat) yang memper-masalahkan soal agama Islam, ajaran-ajaran agama, mabuk-mabukan, judi, maternalisme dan paternalisme. Saat inilah Belanda masuk dan mencoba mengambil kesempatan. Namun pada akhirnya Belanda harus melawan baik kaum adat dan kaum paderi, yang belakangan bersatu. Perang Paderi berlangsung dalam dua babak: babak I antara 1821-1825, dan babak II.
Untuk menghadapi Perang Pangeran Diponegoro, Belanda terpaksa menarik pasukan yang dipakai perang di Sumatera Barat untuk menghadapi Pangeran Diponegoro yang bergerilya dengan gigih. Sebuah gencatan senjata disepakati pada tahun 1825, dan sebagian besar pasukan dari Sumatera Barat dialihkan ke Jawa. Namun, setelah Perang Diponegoro berakhir (1830), kertas perjanjian gencatan senjata itu disobek, dan terjadilah Perang Padri babak kedua. Pada tahun 1837 pemimpin Perang Paderi, Tuanku Imam Bonjol akhirnya ditangkap. Berakhirlah Perang Padri.
Setelah perang Dipenogoro, pada tahun 1932 seluruh raja dan bupati di Jawa tunduk menyerah kepada Belanda kecuali bupati Ponorogo Warok Brotodiningrat III, justru hendak menyerang seluruh kantor belanda yang berada di kota-kota karesidenan Madiun dan di jawa tengah seperti Wonogori, karanganyar yang banyak di huni oleh Warok.
Dalam catatan Belanda, para Warok yang memiliki skill berperang dan ilmu kebal sangat tangguh bagi pasukan Belanda. Maka dari itu untuk menghindari yang merugikan pihak Belanda, terjadinya sebuah kesepakatan untuk di buatkanlah kantor Bupati di pusat Kota Ponorogo, serta fasilatas penunjang seperti jalan beraspal, rel kereta api, kendaran langsung dari Eropa seperti Mobil, motor hingga sepeda angin berbagai merek, maka tidak heran hingga saat ini kota dengan jumlah sepeda tua terbanyak berada di ponorogo yang kala itu di gunakan oleh para Warok juga.

0 Response to "Buku Karya Wahyu Gumelar, SH Bagian 2 : Masjid Besar al-Atiiq Kauman Salatiga (Sejarah, Arsitektur, dan Pengelolaannya)"
Posting Komentar