Landasan Amaliah Aswaja: Bacaan Bilal Jumat Menjelang Khatib Naik Mimbar
Salah satu amaliah Aswaja yang khas adalah
adanya bacaan tarqiyyah oleh Bilal pada pelaksanaan Jumat sebelum khatib naik
ke mimbar. Bahkan
berdasarkan pengalaman saya semasa kuliah dan dan berdomisili di kota,
teman-teman sering bilang begini, “Jika di masjidnya ada bilal pada
saat salat Jumat, maka itu adalah masjidnya orang NU. Sebaliknya, jika tidak
ada bilalnya, maka itu masjid orang Muhammadiyah“
Walau
pernyataan demikian tidak sepenuhnya benar, akan tetapi tidak bisa kita
pungkiri adanya. Bahwa memang salah satu ciri khas masjid yang dikelola
oleh Nahdliyyin adalah adanya bilal saat pelaksanaan salat
Jumat.
Jadi
gambarannya begini, sebelum khatib maju menyampaikan khutbahnya, terlebih
dahulu ada pembacaan tarqiyyah, bacaan sebagai tanda khatib akan
segera naik ke atas mimbar. Secara bahasa, tarqiyyah berarti
“menaikan”. Petugas yang membacanya disebut muraqqi atau bilal. Biasanya
muraqqi sekaligus bertindak sebagai muadzin. Tapi di beberapa masjid di
kampung, ada juga yang antara muraqqi dan muadzin merupakan orang yang berbeda.
Mengenai
pembacaan tarqiyyah ini tak jarang kita mendengar sebagian kelompok yang
menudingnya sebagai bid’ah. Apakah benar demikian?
Sebelum
dijawab mengenai status hukumnya, perlu diketahui terlebih dahulu bacaan yang
terkandung dalam tarqiyyah. Dan berikut redaksi pembacaan tarqiyyah
yang yang sering kita jumpai di beberapa daerah:
مَعَاشِرَالْمُسْلِمِينَ، وَزُمْرَةَ الْمُؤْمِنِينَ
رَحِمَكُمُ اللهِ، رُوِيَ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ
قَالَ، قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قُلْتَ
لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَنْصِتْ، وَاْلإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ
(أَنْصِتُوا وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا رَحِمَكُمُ اللهِ ٢×) أَنْصِتُوا وَاسْمَعُوا
وَأَطِيعُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ ×١
Setelah bilal
selesai membaca kalimat di atas, kemudian khatib maju menerima tongkat dan
ketika naik ke atas mimbar, bilal membaca shalawat ini:
اللَّـٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ٢× ،
اللَّـٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا وَحَبِيبِنَا وَشَفِيعِنَا وَمَوْلاَنَا
مُحَمَّدٍ وَسَلِّمْ وَرَضِيَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَنْ سَادَتِنَا
أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ أَجْمَعِينَ
Kemudian
setelah khatib berada di atas mimbar, bilal menghadap kiblat dan membaca
shalawat dan doa sebagai berikut:
اللَّـٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا
وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، اللَّـٰهُمَّ قَوِّ
اْلإِسْلاَمَ وَاْلإِيمَانَمِنَ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ،
وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ،
وَانْصُرْهُمْ عَلَى مُعَانِدِيْ الدِّينَ رَبِّ اخْتِمْ لَنَا مِنْكَ
بِالْخَيْرِ، يَاخَيْرَ النَّاصِرِينَ، بِرَحْمَتِكَ يآأَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ
Setelah kita
oerhatikan, ternyata bacaan-bacaan bilal dalam shalat Jumat tersebut, minimal
mengandung empat hal.
Pertama,
anjuran mendengarkan secara seksama khutbah yang akan disampaikan khatib.
Kedua, larangan berbicara saat khutbah berlangsung.
Ketiga, pembacaan shalawat kepada Nabi. Keempat, mendoakan kaum muslimin dan
muslimat.
Dan ternyata,
empat isi kandungan tarqiyyah tersebut merupakan hal yang
positif. Karennya, tradisi pembacaan tarqiyyah menurut mayoritas ulama
adalah bid’ah hasanah.
Meski tidak
pernah ada di zaman Nabi dan tiga khalifah setelahnya, namun isi
kandungan tarqiyyah mengarah kepada hal yang positif.
Tidak setiap
hal yang baru disebut bid’ah yang tercela selagi tercakup dalam dalil-dalil
anjuran umum, maka tergolong hal yang baik, sebagaimana ditegaskan oleh para
ulama dalam kajian tentang bid’ah.
Syaikh
Syihabuddin al-Qalyubi, misalnya. Beliau memberikan penjelasan sebagai berikut
mengenai bacaan bilal pada pelaksanaan Shalat Jumat
فرع – اتخاذ المرقي المعروف بدعة حسنة لما فيها من
الحث على الصلاة عليه صلى الله عليه وسلم بقراءة الآية المكرمة وطلب الإنصات
بقراءة الحديث الصحيح الذي كان صلى الله عليه وسلم يقرؤه في خطبه ولم يرد أنه ولا
الخلفاء بعده اتخذوا مرقيا
(Sub permasalahan). Mengangkat muraqqi sebagaimana tradisi yang
terlaku adalah bid’ah yang baik, karena mengandung hal yang positif berupa
anjuran membaca shalawat kepada Nabi dengan membaca ayat Al-Qur’an, anjuran
diam saat khutbah dengan menyebutkan dalil hadits shahih yang dibaca Nabi dalam
beberapa khutbahnya. Tidak ada dalil yang menyebutkan bahwa Nabi dan tiga
khalifah setelahnya mengangkat seorang muraqqi.” (Hasyiyah al-Qalyubi ‘ala al-Mahalli, Juz I, halaman 419)
Imam Ramli,
sebagai salah seorang ulama Madzhab Syafii yang berada pada tataran pemberi
fatwa, ketika ditanya tentang hukum bacaan bilal menjelang khutbah, beliau
menjajawab
فعلم أن هذا بدعة لكنها حسنة ففي قراءة الآية الكريمة
تنبيه وترغيب في الإتيان بالصلاة على النبي في هذا اليوم العظيم المطلوب فيه
إكثارها وفي قراءة الخبر بعد الأذان وقبل الخطبة ميقظ للمكلف لاجتناب الكلام
المحرم أو المكروه في هذا الوقت على اختلاف العلماء فيه وقد كان النبي يقول
هذا الخبر على المنبر في خطبته إهـ
“Maka dapat
diketahui bahwa tarqiyyah adalah bid’ah akan tetapi bid’ah yang baik. Dalam
pembacaan ayat suci Al-Qur’an (yang berkaitan anjuran membaca shalawat)
merupakan sebuah peringatan dan motivasi untuk mebaca shalawat kepada Nabi di
hari Jumat ini yang dianjurkan untuk memperbanyak bacaan shalawat. Pembacaan
hadits setelah adzan dan sebelum khutbah mengingatkan mukallaf untuk menjauhi
perkataan yang diharamkan atau dimakruhkan pada waktu ini (saat khutbah) sesuai
dengan ikhtilaf ulama dalam masalah tersebut. Dan sesungguhnya Rasulullah
membaca hadits tersebut saat menyampaikan khutbahnya di atas mimbar”. (Fatawa
al-Ramli Hamisy al-Fatawa al-Kubra, Juz I, hal.276)
Bahkan,
menurut pandangan Ibnu Hajar Al-Haitami sebagaimana dinukil oleh Syaikh
Sulaiman al-Jamal, tradisi muraqqi sama sekali tidak bisa disebut bid’ah, bahkan tarqiyyah hukumnya
sunah.
Sebab tradisi
tersebut memiliki dalil dalam hadits, yaitu saat melaksanakan khutbah haji
wada’, Rasulullah memerintahkan salah seorang sahabat untuk memberi
instruksi kepada jamaah untuk mendengarkan secara seksama khutbah Nabi.
Syaikh
Sulaiman al-Jamal menulis:
قال حج وأقول يستدل لذلك أي للسنة بأنه صلى الله عليه
وسلم أمر من يستنصت له الناس عند إرادته خطبة منى في حجة الوداع وهذا شأن
المرقى فلا يدخل في حد البدعة أصلا إهـ
“Ibnu Hajar
Al-Haitami berkata, saya mengatakan, dalil mengangkat muraqqi dari sunah Nabi
adalah bahwa Rasulullah memerintahkan seseorang untuk mengintruksikan manusia
untuk diam saat beliau Nabi hendak menyampaikan khutbah Mina di Haji wada’,
yang demikian ini adalah ciri khas dari seorang muraqqi, maka tradisi tarqiyyah
sama sekali tidak masuk dalam kategori bid’ah.” (Hasyiyah
al-Jamal ‘ala Fath al-Wahhab, Juz II, halaman 35)
Dengan
beberapa penjelasan di atas, maka dapat kita tarik kesimpulan bahwa bacaan
bilal menjelang khatib naik ke mimbar atmerupakan hal yang baik untuk dilakukan
dan dilestarikan.
Jadi, bacaan
bilal Jumat merupakan hal yang positif. Maka, tidak ada ruang untuk menyatakan
bahwa ini merupakan bid’ah yang tercela. Wallahu a’lam bisshawab.

0 Response to "Landasan Amaliah Aswaja: Bacaan Bilal Jumat Menjelang Khatib Naik Mimbar"
Posting Komentar