Marbot Masjid : Profesi Mulia, Tapi Miskin Apresiasi
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Sebenarnya sudahlah cukup sebagai bukti, bahwa membersihkan masjid adalah amalan yang agung adalah sabda Rasulullah shallallahu’ alaihi wasallam,
أَحَبُّ الْبِلَادِ إِلَى اللهِ مَسَاجِدُهَا،
وَأَبْغَضُ الْبِلَادِ إِلَى اللهِ أَسْوَاقُهَا
“Tempat yang paling dicintai oleh Allah adalah masjid, dan tempat yang paling dibenci Allah adalah pasar” (HR. Muslim)
Dia menjadi tukang sapu, tapi untuk tempat yang
paling dicintai oleh Allah, bagaimana tidak mulia?! Tentu ini sebuah pekerjaan
yang mulia dan harus dihargai. Alangkah indahnya, bila orang-orang yang
memiliki kedudukan di masyarakat, untuk sesekali menyapu rumah Allah. Selain
supaya masyarakat menjadi sadar akan wibawa masjid, sehingga mereka menjadi
lebih sadar akan kehormatan masjid, juga untuk membuatnya menjadi lebih dekat
dengan masyarakat dan mengikisifat-sifat angkuh dalam diri.
Sebagai tauladan dalam hal ini, seorang ulama
karismatik bernama Abu Syuja’ Ahmad bin al-Husain al-Ashfahani (w 593 H).
Beliau ini adalah ulama yang terpandang di kalangan kaum muslimin. Buku
karyanya yang berjudul “Matan al-Ghayah wat-Taqriib” menjadi materi yang
wajib untuk dipelajari, bagi yang hendak mendalami fikih mazhab Syafi’i.
Jabatannya sebagai hakim (qodhi) di masanya, tidak membuatnya enggan
untuk membersihkan masjid. Beliau biasa menyapu masjid Nabawi, dan menghidupkan
lentera-lentera masjid bila senja tiba. Beliau pula yang merapikan tikar-tikar
masjid bila hendak shalat. Pekerjaan ini senantiasa ditekuni, sampai ajal
menjemputnya.
Bukti lain, yang menunjukkan bahwa amalan ini adalah amalan yang mulia, sebuah hadis yang menceritakan tentang seorang perempuan berkulit hitam, yang biasa menyapu masjid di masa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ -فِي قِصَّةِ
الْمَرْأَةِ الَّتِي كَانَتْ تَقُمُّ الْمَسْجِدَ- قَال: فَسَأَلَ عَنْهَا
النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا: مَاتَتْ, فَقَالَ:
“أَفَلاَ كُنْتُمْ آذَنْتُمُونِي”? فَكَأَنَّهُمْ صَغَّرُوا أَمْرَهَا. فَقَالَ:
“دُلُّونِي عَلَى قَبْرِهَا”, فَدَلُّوهُ, فَصَلَّى عَلَيْهَا.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Beliau berkisah tentang seorang wanita yang biasa membersihkan masjid (di masa Nabi). Nabi , menanyakan tentang kabar wanita itu, para sahabat menjawab, “Ia telah meninggal.” ” Mengapa kalian tidak mengabariku?” Tanya Nabi kepada sahabatnya. Para sahabat mengira, bahwa pekerjaannya tersebut tidak terlalu terpandang. “Tunjukkan aku makamnya” Pinta Rasulullah . Mereka-pun menunjukkan makam wanita tersebut, kemudian beliau men-sholatkannya” (Muttafaqun ‘ alaihi).
Mulia bukan…?! Sampai Rasulullah saja
menyempatkan diri untuk menyolatkan jenazahnya, meski sudah dikuburkan. Sebuah
kemuliaan bila orang termulia saja sampai menegur para sahabatnya, karena lupa
mengabarkan perihal kematian-nya. Saat beliau tahu bahwa perempuan tersebut
telah dikuburkan, beliau sempatkan diri untuk tetap menyolati jenazahnya, meski
sudah dimakamkan.
Setelah menukil hadis ini, Syaikh Abdullah bin Sholih Al-Fauzan dalam al-Fawaid al-Majmu’ah hal. 247 men-jelaskan,
ففي هذا دليل على فضل تنظيف المسجد، لأن صلاة النبي صلى
الله عليه وسلم على قبر من يكنس المسجد دليل على تعظيم عمله
“Hadis ini dalil akan utamanya pekerjaan membersihkan masjid. Karena shalatnya Nabi shallallahu ‘alaihiwasallam, atas kuburan orang yang menyapu masjid tersebut, bukti bahwa perbuatan ini adalah amalan yang luhur.”
Selain itu, banyak kalangan mengartikannya
sebagai seseorang yang ditugaskan untuk menjaga kebersihan masjid dan juga
sekaligus menjadi penanggungjawab segala ritual ibadah di masjid seperti adzan
lima waktu. Belum lagi tugas tugas teknis lainnnya seperti bertanggung-jawab
atas kebersihan dan kerapian masjid. Tugas Marbot ini sungguh begitu berat
karena harus standby mengurusi segala kegiatan di masjid.
Namun, tahukah kawan-kawan, berapa
honor yang mereka dapatkan? Sangat kecil dan tak layak. Sungguh miris dan
ironis sekali. Dengan tugas mulia yang di embannya plus banyak tanggung jawab
yang dibebankannya seperti mengawal adzan dan sholat selama 5 waktu
(Subuh, Dhuhur, Asar, Magrib, Isya) maka selayaknya para Marbot ini
mendapat apresiasi yang layak. Bagaimana tidak! Dengan tugas dan rutinitas yang
menjadi beban tanggungjawabnya setiap hari maka ia otomatis akan kehilangan ke-sempatan
untuk mencari nafkah dan bekerja seperti manusia biasa lainnya. Hampir seluruh
waktunya akan tersita untuk masjid.
Lalu kemudian, Apakah honor tersebut
cukup untuk memenuhi kebutuahn sehari-hari? Jawabannya pasti Tidak akan cukup
dan sangat kurang. Apalagi, kalau mereka memiliki keluarga dengan anak-anaknya?
Bagaimana kalau mereka jatuh sakit, siapa yang akan bertanggungjawab atas biaya
pe-ngobatannya? Sungguh suatu profesi yang sangat tidak memiliki harapan masa
depan yang baik.
Ummat Islam, Kementrian Agama
dan MUI haruslah bertanggung-jawab untuk
menyelesaikan persoalan ini. Para Marbot ini memang tidak akan pernah berdemo
menuntut hak-hak nya namun kita semua sebagai kalangan yang me-miliki kekuatan
berfikir yang logis harus sama-sama memperjuangkan hak-hak mereka yang
terabaikan ini.
Jargon “keikhlasan” demi melayani
Allah seharusnya tak layak disematkan kepada para Marbot ini karena mereka toh
juga memiliki tanggungjawab besar bagi dirinya, keluarganya dan masa
depannya juga. Sungguh tak adil rasanya men-campakkan hak-hak mereka padahal
mereka telah banyak berkorban untuk ummat Islam dengan penuh per-juangan. Karena
bila tidak lambat laun tidak akan ada seorangpun yang mau berprofesi sebagai
Marbot masjid ini. Tenaganya dibutuhkan namun miskin apresiasi dan penghargaan.
Apa jadinya bila masjid tidak ada marbotnya????? Dipastikan rutinitas dan
aktivitas masjid akan semakin sepi dan tak lagi indah sebagai tempat ibadah.
Maka dari itu, melalui tulisan ini, saya berharap kepedulian kita kepada para Marbot ini terus ditingkatkan karena peran mereka sungguh vital bagi ummat Islam.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ
فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ
وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ
السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ
الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ
التَّائِبِيْنَ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ
أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْاِيْمَانِ وَالْاِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ. وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ.
أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ
اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ
وَالْإِحْتِرَامِ أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ
بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ
وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا
عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ
وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى
اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى
اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ
وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ.
وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ.
اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ
وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا
خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اَللّٰهُمَّ إنَّا
نَسْتَعِينُكَ وَنَسْتَغْفِرُكَ وَنَسْتَهْدِيْكَ، وَنُؤْمِنُ بِكَ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْكَ،
وَنُثْنِيْ عَلَيْكَ الْخَيْرَ كُلَّهُ، نَشْكُرُكَ وَلَا نَكْفُرُكَ، وَنَخْلَعُ وَنَتْرُكُ
مَنْ يَفْجُرُكَ. اَللّٰهُمَّ إيَّاكَ نَعْبُدُ وَلَكَ نُصَلِّيْ وَنَسْجُدُ وَإِلَيْكَ
نَسْعَى وَنَحْفِدُ نَرْجُوْ رَحْمَتَكَ وَنَخْشَى عَذَابَكَ، إنَّ عَذَابَكَ الْجِدَّ
بِالْكُفَّارِ مُلْحِقٌ. اَللّٰهُمَّ ثَبِّتْ إِخْوَانَنَا اْلمُجَاهِدِيْنَ فِي فِلِسْطِيْنَ،
خُصُوْصًا فيِ غَزَّةَ، وَاحْقِنْ دِمَائَهُمْ رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا
حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ
رَبّ الْعَالَمِيْنَ عِبَادَ اللّٰهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ
وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.
فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ.
وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ
.jpeg)
0 Response to "Marbot Masjid : Profesi Mulia, Tapi Miskin Apresiasi"
Posting Komentar