Buku Karya Wahyu Gumelar, SH Bagian 7 : Masjid Besar al-Atiiq Kauman Salatiga (Sejarah, Arsitektur, dan Pengelolaannya)
Biografi Singkat Ulama-ulama Kauman
K.H. Zubair Umar al-Jailani
Ulama ini adalah seorang Ulama Ahli Falak Nusantara. Tak banyak orang yang kenal. memang, bahkan nama-nya pun banyak orang belum pernah mendengar salah satu ulama’ ter-kemuka dalam bidang falak ini. Namanya adalah KH. Zubair Umar Al Jailani. Ia adalah seorang ahli astronomi muslim yang lahir di Bojonegoro, Jawa Timur. Lahir pada tanggal 19 September 1908, KH. Zubair Umar adalah ahli dalam bidang falak yang pernah didamba menjadi calon mantu KH. Hasyim Asy’ari, pencetus berdirinya organisasi terbesar Nahdlatul Ulama’. Merupakan seorang ulama’ besar pada masanya yang memulai rihlah kesantriannya mulai dari pondok pesantren Termas di Pacitan, Ponpes Simpang Kulon di Pekalongan, Tebu Ireng di Jombang hingga mengakhiri perjalanan santrinya di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.
Di tempat terakhirnya menimba ilmu inilah, KH. Zubair sekaligus menjadi pengajar pada bidang study Falak serta menuliskan buah pemikirannya berbentuk kitab klasik bernama Al Khulashotul Wafiyah. Kitab inilah yang dijadikan buku acuan dalam bidang astronomi oleh para ulama’ baik di tanah air maupun di Timur Tengah untuk menentukan hisab/perhitungan awal dan akhir bulan Ramadhan dan bulan-bulan qomariyah lainnya. Kitab ini dinilai sebagai salah satu kitab falak yang paling lengkap, sederhana dan terperinci diantara kitab-kitab falak lain seperti matla’us sa’id, tashilul mitsasal, dan durrul matslub. Karena menggunakan epoch (mabda’) Makkah, kitab karya KH. Zubair Umar ini banyak digunakan di Timur Tengah seperti Saudi Arabia, Mesir dan Irak. Di Indonesia sendiri, kitab ini juga dikaji di pondok-pondok pesantren dan dijadikan kitab rujukan ahli falak hingga saat ini.
Salah satu halaman dalam kitab Al Khulashotul Wafiyah yang menjelaskan mekanisme terjadinya gerhana matahari. KH. Zubair Umar Mengakhiri kisah perjalanan santrinya dengan kembali ke tanah air pada tahun 1935. Tepatnya ke sebuah desa bernama Reksosari, tempat tinggalnya bersama sang istri, nyai Zainab, dengan dibantu iparnya KH. Zainuddin, KH. Zubair mendirikan pesantren falak yang dalam waktu tak lama menjadi rujukan ribuan santri yang ingin mendalami imu astronomi. Pada masa pendudukan Jepang tahun 1943-1945, KH. Zubair Umar diangkat menjadi kepala Mahkamah Islam Tinggi Jawa-Madura. Tugasnya tak lain adalah menjadi hakim tinggi yang menangani dan memutuskan masalah-masalah keagamaan yang berkembang pada saat itu.
Tak berhenti sampai di situ, kiprahnya pasca kemerdekaan semakin getol daam membantu meningkatkan mutu kehidupan masyarakat melaluli jalur pendidikan. Kiprahnya dalam bidang pendidikan berpusat di Kota Salatiga dimana ia berkantor pada Departemen Agama yang waktu itu berkantor di Kota Salatiga. Berbagai institusi berbentuk yayasan dan pesantren ia dirikan seperti halnya Yayasan Imarotul Masajid wal Madaris, Yayasan Pesantren Luhur, Institusi Pendidikan Guru Agama (PGA) dan Pondok Pesantren Joko Tingkir. Beberapa institusi pendidikan yang didirikannya kini telah berkembang menjadi institusi sekolah yang maju seperti IAIN Salatiga yang bercikal bakal dari yayasan Pesantren Luhur.
Pada awal kemunculannya, IAIN Salatiga adalah sebuah Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Nahdlotul Ulama’ (IKIP NU) yang menempati gedung perkuliahan milik Yayasan Pesantren Luhur di Jalan Diponegoro Salatiga. IKIP NU dalam waktu satu tahun berubah menjadi Fakutas Tarbiyah bersamaan dengan dinegerikan statusnya melalui IAIN Walisongo dan menjadi cabangnya pada Fakultas Tarbiyah yang berlokasi di Kota Salatiga. KH. Zubair Umar sendiri pada waktu itu pula menjadi rektor pertama di IAIN Walisongo. Kini institusi tersebut telah berubah menjadi salah satu Institusi besar bernama IAIN Salatiga dan menjadi rujukan belajar para mahasiswa dari berbagai daerah.
K.H. Abdul Mukti (Mbah Ajung)
Sosok ulama yang satu ini, mungkin masih asing terdengar pada masa generasi sekarang. Beliau adalah sosok ulama atau Abdi Dalem atau Punggowo yang berasal dari Keraton Surakarta. Beliau lahir di Suruh-Kabupaten Semarang pada tahun 1852 dan wafat pada tahun 1962. Beliau adalah seorang Penghulu pada Masa Penjajahan Belanda, beliau dahulu dalam pencatatan buku nikah masih menggunakan Huruf Jawa. Beliau juga merupakan seorang Hakim Anggota bersama Kyai Salim sebagai Ketua dan Kyai Sidiq Sebagai Sekretaris merangkap Bendahara di Pengadilan Agama Salatiga /Pengadilan Serambi (Pengadilan Serambi : kerena dulu setiap sidang menggunakan serambi masjid) sekitar tahun 1940 atau Masa Penjajahan Jepang.
Kyai Achmad Ma’muri Abdul Mukti
Kyai Achmad Ma’muri adalah sosok kyai yang berperan penting dalam penegelo-laan Masjid Besar Al-Atiiq Kauman Salatiga. Beliau merupakan putra dari K.H. Abdul Mukti (Mbah Ajung), yang lahir pada tahun 1912 dan wafat sekitar tahun 1982 dimakamkan di Makam Wakaf Kauman Salatiga. Beliau seorang santri yang pernah nyantri di Rembang, setelah itu nyantri lagi di Kaliwungu Kendal, kemudian pernah nyantri juga di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur, dan beliau merupakan adik kelas dari seorang tokoh Kemerdekaan yakni K.H.A. Wahid Hasyim. Bahkah ketika beliau menjadi anggota DPRD Salatiga Orde Lama Kabinet Gotong Royong dari Fraksi NASAKOM (Wakil dari Agma) beliau mengusulkan nama-nama jalan di Salatiga, termasuk Jalan Masjid yang sekarang menjadi Jalan K.H.A. Wahid Hasyim karena kekaguman beliau dengan sosok kakak kelas beliau ketika nyantri di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Beliau juga pernah menjadi Ketua Pengadilan Agama Semarang (sekarang: Kota Semarang) tahun 1964-an sampai tahun 1975 menggantikan R. Abdul Rochim. Beliau selain menjadi imam shalat di Masjid juga mengajar di Madrasah Dinniyah (sebelah utara masjid yang sekarang di gunakan sebagai pengajian ibu-ibu), dan juga mengisi pengajian-pengajian dakwah lainnya.
Kyai Muhammad Muhson Zakaria
Beliau adalah sosok ulama yang berperan untuk mencetak kader - kader penerus generasi Islam khususnya di Kauman dan Salatiga serta Indonesia pada umumnya. Beliau adalah Kyai Muhammad Muhson Zakariya, beliau lahir sekitar tahun 1928 dan wafat pada tanggal 20 April 1994. Beliau merupakan keturunan dari seorang kyai yang bernama Kyai Ahmad Zakariya. Beliau dalam perannya sebagai pencetak kader-kader penerus beliu mendirikan sebuah Pondok Pesantren yang bernama Pondok Pelajar Arribatun Najah yang berada di Dusun Kauman Salatiga.
K.H.M. Bakrie Tholchah
K.H. Moehammad Bakrie Tholchah adalah sosok kyai dan ulama sekaligus menantu dari K.H. Zubair Umar al-Jailani yang merupakan Sosok ulama fenomenal ahli astronomi/ ilmu falak (sebagaiman dijelaskan dalam poin A), beliau lahir pada tanggal 3 Juli 1926 tinggal di Jalan K.H.A. Wahid Hasyim sebelah Masjid Besar al-Atiiq Kauman Salatida dan beliau wafat pada tanggal 1 Desember 2005 di makamkan di Makam Wakaf Kauman Salatiga.
Beliau merupakan kepala pertama Kantor Urusan Agama diubah menjadi Departeman Agama dan sekarang menjadi Kementerian Agama Kabupaten Semarang di Kota Salatiga pada tahun 1974-1976. Setelah masa pensiunya beliau tetap aktif dalam organisasi kemasyarakatan dan keagamaan. Hal ini dibuktikan dengan kiprah beliu dalam organisasi Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Salatiga, Yayasan Pesantren Luhur, Universitas Nahdlatul Ulama Salatiga (UNU) sebelum ada IAIN Walisongo di Salatiga (sekarang UIN Salatiga) dan tentunya beliau menjabat sebagai Ketua Tamir Masjid Besar Al-Atiiq Kauman Salatiga dan organisasi lainnya.
Bersama-sama dengan pengurus ta’mir yang lain, beliau menyusun program-program keagamaan sebagai upaya memakmurkan masjid tertua kedua di Salatiga tersebut.
Drs. K.H.M. Sjatibi
Drs. K.H. Moehammad Sjatibi merupakan sosok kyai yang saat ini masih berjuang khidmad dalam organisani keagamaan maupun kemasyarakatan di Kota Salatiga. Beliau lahir di Boyolali tanggal 13 Desember 1947. Kini bertempat tinggal di Jalan Kauman Nomor 49 RT 002 / RW 002 Kelurahan Sidorejo Lor, Kecamatan Sidorejo, beliau mulai berjuang di Kota Salatiga sejak 1970. Nama Istri Hj. Qudriyah, S.Ag
Pedidikan di mulai dari Santri di Pondok Nirbitan Asuhan K.H. Abdus Shomad (1958 - 1966) jenjang sekolah formal mulai dari SRI N, kemudian MTs Al-Islam, lanjut PGA N selama 4 Tahun, lanjut kembali di PGAA Al-Islam. Setelah itu melanjutkan kembali di PGA N selama 6 Tahun kemudian UII Tarbiyah dan terkhir di IAIN Walisongo. Adapun pengalam organisasi yakni di PII dan HMI.
Dari latar belakang pekerjaan beliau pernah berkhidmah di bidang pendidikan antara lain Guru Madrasah Diniyah, Guru SDN Gondang-Solo, Guru di MTs DIBAL Kanoman, Guru PGA N / MTs N Salatiga, Kepala Sekolah MTs N Andong-Boyolali, Kepala Sekolah MTs N Boyolali, Kepala Sekolah MAN Boyolali, Kepala Sekolah MAN Salatiga, Kepala Sekolan MAN Tengaran Kabupaten Semarang dan Pendiri MAN Sawit Boyolali.
Kiprahnya dalam masyarakat beliau pernah menjadi Pengurus Daerah Muhammadiyah Kota Salatiga Majlis DIKDASMEN, Pengurus IPHI Kota Salatiga mulai 1992 sampai sekarang, Sekretaris MUI Salatiga, Wakil Ketua MUI Salatiga selama 2 Periode, dan Sekretaris FKUB Kota Salatiga. Pengurus LPMK Kelurahan Sidorejo Lor,Petugas Tim Pembimbing Haji Indonesia (TPHI) tahun 2003. Pendiri Pondok Tahfidhul Qur’an Al-Atiiq Salatiga (2018), Pendiri Pengajian Ahad Pagi “Al-Atiiq” tahun 1993 sampai sekarang dan sekarang Menjabat Ketua Ta’mir Masjid Besar al-Atiiq Kauman Salatiga (2006-2024). Nadhir Wakaf Kalimodo Kauman dan Wakaf Makam dan Masjid Besar al-Atiiq Kauman Salatiga. Motto hidup beliau “Limardhotillah”.

0 Response to "Buku Karya Wahyu Gumelar, SH Bagian 7 : Masjid Besar al-Atiiq Kauman Salatiga (Sejarah, Arsitektur, dan Pengelolaannya)"
Posting Komentar